Musibah Kelaparan di Somalia Yang Belum Berujung

Somalia merupakan salah satu negara di Benua Afrika yang kini sedang dilanda musibah kelaparan. Memang, negara ini merupakan negara dengan suhu ekstrim panas sehingga tidak banyak tanaman yang tumbuh dengan baik, terutama tanaman pangan. Akibat dari kelaparan tersebut, banyak masyarakat yang mengalami malnutrisi, terjangkit penyakit dan meninggal.

Menurut ahli gizi internasional, Dr. Francesco Checci wabah campak dan kolera adalah salah satu faktor penyebab terjadinya musibah kelaparan somalia. Dalam krisis pangan tahun 2010 sampai 2012, tercatat kasus kematian mencapai 50.000 – 100.000 jiwa. Sebagian adalah masyarakat di daerah pengungsian yang rawan wabah penyakit menular.

Faktor penyebab musibah kelaparan adalah musim kering yang terjadi dalam waktu yang lama di wilayah Tanduk Afrika, termasuk di dalamnya adalah Somalia. Hal inilah yang menjadi awal mula pengungsian beruntun yang ternyata mematikan. Masyarakat Somalia erbondong – bonding menuju Mogadishu, ibukota Somalia dengan harapan bisa mendapatkan makanan yang layak. Namun, ternyata malah banyak wabah penyakit yang tersebar di sana.

Salah satu faktor lain korban terus berjatuhan sampai bertahun – tahun adalah kurangnya tanggapan dan kepedulian masyarakat internasional terhadap kondisi yang terjadi di Somalia. Media internasional juga kurang gamblang menceritakan keadaan sebenarnya sehingga tidak banyak informasi yang bisa diakses.

Bahkan, negara – negara tetangga maupun yang berjauhan namun bisa membantu juga lambat dengan berbagai kejadian ini. PBB sangat menyayangkan kelambatan tersebut hingga korban yang berjatuhan mencapai 260.000 orang meninggal. Hitungan tersebut belum termasuk korban malnutrisi dan penyakit kronis. Yang lebih ironis, karena ketahanan tubuh lebih rendah, anak – anak dan balitalah yang mendominasi para korban tersebut.

Rudi Van Aaken, Wakil Kepala Food and Agricultural Organization (FAO), Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dengan titik dinas Negara Somalia menjelaskan bahwa hal ini tidak akan terjadi jika ada pencegahan terhadap kelaparan sebelum musibah tersebut dipublikasikan secara formal. Dengan ini, masyarakat dunia bisa mengambil pelajaran penting bahwa pencegahan dan kesigapan internasional terutama negara maju dalam membantu kemanusiaan negara – negara berkembang adalah suatu hal yang mutlak dilakukan sebagai sesama manusia.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia juga perlu menggalang donasi melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT). Donasi bisa disalurkan dalam berbagai bentu. Karena musibah kelaparan sudah terjadi bertahun – tahun lamanya, banyak hal yang mereka perlukan di kamp – kamp pengungsian. Sedikit bantuan seperti yang diberikan ACT saat Idul Adha yakni daging kurban tentu akan menghiasi hari mereka dengan senyuman, dan bisa menambah nutrisi bagi para korban kelaparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *